Labels are for filing, labels are for clothing, they’re not for people.
May 29, 2009
May 28, 2009
May 27, 2009
penjendiri
indulging yourself in solitary situation is by far better than denying yourself within the crowd
May 5, 2009
Ketawa sendiri sambil gigit jari
Berikut adalah jurnal tentang bagaimana penulis menyelesaikan beberapa tugas berikut :
- Ngambil kiriman di travel
- Minta keterangan gimana ngambil duit dari ITB
- Ngurus ATM yang ilang di BCA
Detik pertama di hari ini, 5 mei 2009, penulis lalui dengan melakukan sesuatu yang menandakan bahwa saya oh so happening (baca : latihan di kosan Pandu). Jadi, penulis dan tiga koleganya sedang mempertadjam kemampuan mereka. Yang terjadi adalah : tiga kolega penulis mempertajam kemampuan debat mereka sementara penulis menulis (lucu ya penulis menulis?) semua pidatonya hanya untuk menyadari bahwa pidatonya *ehem.
Penulis melakukan proses penulisan itu hingga pukul 2 pagi. Lalu, salah satu kolega penulis yang juga merupakan presiden suatu sirkulasi keberdosaan (SEF) berbaik hati dan mengantarkan penulis pulang ke kosannya melewati jalanan Bandung yang oh sangat dingin.
Angka yang tertera di jam handphone saat penulis menginjakan kaki di kosan adalah 2:16. Penulis bermaksud mencari matter tentang lomba keberdosaan di Internet. Sayangnya, penulis tidak bisa mengerti apa yang tertera di monitor karena keleletan otak penulis. Penulis pun tidur jam 3.08 pagi.
Jam 5 pagi. Alarm berdering, penulis pun bangun, mandi, dan bersama seorang teman pondokannya whose older brother is having a birthday today (Sebut saja teman pondokan penulis Gema Satria, dan kakak lelakinya Prama Shaumadana, SUMPAH BUKAN NAMA ASLI) bertolak ke ITB dengan maksud menempelkan poster yang advertise suatu kegiatan keberdosaan lain (baca : Konser PSM).
Penulis dan teman pondokannya pun sampai di suatu tempat yang sangat luasssssssss, yaitu sekre PSM. Di situ, penulis dan teman kosannya mengambil poster-poster dan perekat yang teksturnya mirip sesuatu yang sangatlah pantas untuk disebutkan di sini.
Kemudian, penulis dan teman pondokannya mulai merekatkan kertas yang berisikan perayaan keberdosaan itu mulai dari FTTM menuju Kantin Bengkok lalu GKU Timur. Sampai di GKU Timur, teman pondokan penulis teringat bahwa dia ada kuis kimia pagi itu dan pamit kepada penulis. Lalu, penulis melanjutkan proses penempelan poster di jejeran arsitektur sampai ke gedung seni rupa.
Saat di gedung seni rupa, penulis teringat akan sesorang yang Fakultasnya bukan Fakultas Seni Rupa dan Desain, dan jurusannya bukan Disain Interior. Di gedung seni rupa, penulis dengan lenje menempelkan poster2 perayaan keberdosaan tersebut.
Setelah penulis selesai menempelkan poster di Gedung Seni Rupa, penulis bermaksud mengembalikan lem dengan bentuk sangat senonoh itu ke tempat yang sangat luas. Penulis TIDAK MENGALAMI KELELAHAN SAMA SEKALI saat berjalan dari Gedung Seni Rupa ke Sekre PSM. Mengapa demikian? Karena jarak antar dua tempat tersebut SANGATLAH DEKAT dan penulis juga merupakan orang yang SANGAT ATLETIS. Yoa mamen kan??
Sesampainya di sekre PSM, penulis menggunakan peranti milik ketua penyebarluasan perayaan keberdosaan (baca : Blackberry Shelty), dan penulis melakukan kegiatan yang sangat produktif, Facebookan!
Lalu, penulis sekali lagi berjalan kaki dari Sekre PSM ke Cihampelas karena ingin mengambil kiriman paket dari Jakarta. Sesampainya di tempat pengambilan paket, penulis mendapatkan bahwa tempat yang dimaksud bukanlah tempat penulis berada pada saat itu. “Masih di bawah mas!”, begitu kata mbak2nya dengan tidak berdosa dan TIDAK BERMAKEUP.
Akhirnya, penulis sampai di tempat pengambilan paket, berhasil mengambil paket itu, dan berencana melakukan tugas selanjutnya, ke gedung Annex. Buat apa? Minta duidh, AHA!
Penulis agak kebingungan bagaimana cara mencapai gedung Annex tanpa mengeluarkan uang, mengingat jumlah alat pertukaran Siah yang berada di dompet penulis adalah….. NOL.
Jadi, penulis jalan kaki dari Cihampelas menuju ke Gedung Annex melewati jembatan layang. Orang yang GAK kuliah di Disain Interior itu bakal bilang, “Hibh banget”.
10000 langkah per hari program Anlene itu pun sudah dilakukan hari ini.
Sesampainya di gedung Annex pun, penulis mendapat informasi yang dia cari dan melaporkan kembali kepada ibunya. Lalu, penulis mendapatkan berita bahwa ibunya sudah mengirimkan uang sebesar 150 ribu rupiah. Penulis pun senang karena dia bisa naik angkot, sedih ya?
Setelah menerima berita bahwa ada tambahan 150 ribu di rekeningnya, penulis melanjutkan perjalanan dari Annex ke Gedung BCA yang terletak di bawah Fly Over. Di sana, penulis mengambil nomor antrian, mengantri dengan *ehem* agak lama, dan menemukan bahwa DIA HARUS KE KANTOR POLISI untuk memperbaharui surat laporan kehilangan. Tahiks!
Untung sudah ada uang, jadi penulis bisa naik angkot ke kantor polisi yang terletak di daerah Sangkuriang. Di sana penulis untuk kedua kalinya berhasil melakukan hal yang dia paling suka, MENGANTRI, dan akhirnya penulis pun berhasil meminta pembaharuan surat, dan penulis pun berhasil dimintai UANG NGEPRINT. Wah wah, orang Indones*a tidak hanya tepat waktu, TAPI JUGA JUJUR.
Lalu penulis kembali lagi ke ATM BCA, mengantri lagi, dan akhirnya dia sampai juga ke hadapan Customer Service. Di situ, dia dihadapkan pada kenyataan bahwa : biaya penngantian kartu adalah 15 ribu rupiah dan biaya transfer rekening antar daerah adalah 5 ribu rupiah. Kalau ditotal, semuanya jadi 20 ribu rupiah.
Setelah dihadapkan pada kenyataan bahwa ada banyak yang harus dibayar, penulis mendapatkan SMS dari salah satu kolega penulis yang mengatakan bahwa uang pendaftaran NDC adalah 50 ribu dan hutang penulis terhadap koleganya tersebut adalah 20 ribu rupiah. Totalnya : 70 ribu rupiah.
Penulis pun menghitung2, 70 + 20 + uang ngeprint = 100 ribu rupiah. Berarti, hari ini penulis sudah mengeluarkan biaya 100 ribu rupiah untuk melakukan hal yang sangat penulis suka : MENGANTRI.
Penulis sudah berusaha menahan air mata saat petugas BCA menjabarkan tentang Kartu Flazz yang tidak mungkin penulis gunakan mengingat kondisi keuangan yang oh sangat mendukung.
Setelah penulis mendapatkan Kartu ATM goldnya, penulis keluar dari ATM BCA dan bermaksud pulang ke kosan. Penulis berjalan, berjalan, berjalan, dan tanpa sadar penulis duah berada di DEPAN BIP. AWWW, such an intelectual thing to do. Penulis pun menyusuri kembali jalan yang telah dia lalui dengan sia-sia dengan pose : Ketawa sendiri sambil Gigit Jari.
I AM IN FUCKING LOVE WITH THIS FUCKING LIFE.
If anything, God has a celestial sense of humor and we mortals can only pretend it is indeed funny.
PS : Happy birthday buat pernikahan bokap nyokap dan orang yang NAMANYA BUKAN Prama Shaumadana.
May 1, 2009
Haha (tertawa palsu)
Pakaian seperti apa sih yang selama ini gue pakai?
Itu kan yang menjadi dasar penilaian kalian akan gue? Pakaian itu kan yang kalian pikir adalah pikiran2 gue? Kalian kira pakaian2 itu, pakaian2 yang jauh dari warna hitam, pakaian2 yang jauh dari warna putih. Pakaian2 yang jwarnanya jauh dari mejikuhibiniu.
Pakaian2 yang terbuka.
Bukan berarti, kalau gue pakai pakaian2 yang terbuka, gak ada lagi yang perlu dilihat.
Kalian gak tau kan? Siapa tau gue selama ini pake stocking atau spandex selama ini?
Kalian gak tau kan apa yang sebenarnya dibalik pakaian ini?
Kalian gak tau kan kalau kaki gue sebenernya berbulu lebat?
Gak tau kan, kalau ada jerawat di muka gue? Kalau muka gue pakai bedak yang tebel banget.
Kalau gue pake concealer, karena kalian gak suka ngeliat muka orang yang berjerawat, kalian gak suka ngeliat orang yang berbulu lebat.
Gue juga udah capek pakai pakaian ketat2 ini, apalagi kalau koreng di kaki gue udah minta digaruk, apalagi kalau jerawat gue mulai tumbuh.
Jerawat gue udah mulai tumbuh, udah pecah, dan kenanya ke pakaian ketat gue. Sakit banget. Tapi pakean ini gak bisa gue lepas. Gue takut kalian jijik ngeliat koreng2 yang bernanah, dilapisi bulu-bulu lebat.
Gak ada orang yang mau ngeliat koreng ini, semuanya mau ngeliat gue dengan pakaian2 bagus. Semuanya mau ngeliat gue dengan pakaian yang berwarna-warni, sekarang gue udah mulai kepanasan.
Mungkin gue mau telanjang aja dan tinggal di rumah buar gak ada yang liat.
Plis dong, don’t take me for granted. Guess what, orang tolol ini punya sedikit kepintaran
April 23, 2009
Satu pikiran bodoh (ato malah pintar?)
Berkenaan dengan post gue yg seblomnya dengan judul “Putu and Me”, gue menemukan satu lagi ekspresi nyata orang Indonesia akan kebosanannya terhadap hal2 yang pintar, or at least well-thought.
Jadi, di kereta api, contohnya yang perjalanan Jakarta-Bandung, pas mau berangkat, ada mas2 yang mondar-mandir nawarin pinjaman bantal yang harganya 2000.
Yang ada di pikiran gue? Kenapa gak ditaro aja bantal di setiap kursi, dan harga tiketnya dinaikin jadi 27000 (tadinya 25000)
Apa aja yang bisa kita capai kalo hal ini diterapkan?
1. Setiap ada satu orang yang naik kereta, perusahaan kereta mendapatkan ekstra keuntungan 2000. Toh, hampir setiap perjalanan kereta Jakarta-Bandung ujung2nya penuh juga. Penumpang kereta juga gak ada yang berkeberatan ngasih ekstra 2000, knowing that their necks are being supported while they are asleep.
2. Ngurangin kerjaan orang yang mondar-mandir di kereta, iya dong, kan gak ada lagi yang mesti bolak-balik nawarin bantal jadinya. Meaning? duit yang tadinya dipake buat bayar gaji penjaja bantal itu bisa dipake buat sesuatu yang lebih berguna. Contoh? kurangin harga nasi goreng, uda dikit gak enak, lima belas ribu lagi, makanya gue dan Putu lebih milih makan di McD.
3. Ngasih pesan ke masyarakat kalo Pemerintah menjadi SEDIKIT lebih cerdas.
Ha!
April 22, 2009
Putu and me
Jadi, gue baru kenal ni ama ni orang..
Ceritanya, gue kan jadi attached adju buat team debat ITB A, dan dijaa adalah attached adju team debat ITB B.
Pada hari kamis, 16 April 2009, kita diwajibkan menghadiri semacam workshop adjudicator di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Kita harus sampai di situ jam berapa? Jam delapan.
Jadi, karena gue memutuskan mau berHEMAT, gue menimbang2 dan memutuskan untuk naik kereta ke situ.
Jadi deh, gue dan si Putu yang notabene baru guve kenal itu janjian. Di mana? Mcd Simpang Dago. Jam berapa? 4 pagi. Pagi Amat Mas! Iya, soalnya keretanya yang jam lima.
Gue nyampe di mcd jam minus sebelas (baca : empat kurang lima belas). Dan, karena si Putu belom nyampe, perut gue memutuskan, “SEKARANG WAKTUNYA LAPAR”. Jadi, gue pesen deh nasi ayam beserta coca cola dan french fries yang 5500. Pas gue baru kelar ngomong ama abangnya. Zong, datang si Putu. Ya udah, akhirnya dia mesen juga.
Lalu, berhubung kita baru kenal, kita basa-basi yang basi dulu dongg. Ya gak Put? Jadi kita ngobrol2 dan tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul DUA KOMA LIMA (baca : setengah lima). Ya sudah, karena kita takut telat. Kita memutuskan, kita akan : NAIK TAKSI. Berapa argonya dari Mcd ke stasiun : Dua Puluh Ribu.
Oke, kita di kereta nih. Dua puluh lima ribu. Jegejegejegejegejegejegejegejeg. Sampailah kita di Stasiun Gambir.
Pas kita turun, yang ada di pikiran gue adalah kita harus naik kereta lagi untuk sampai di UI. Sementara jarum panjang sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Dan kita harus ngumpul jam? Delapan. Yak, bagus sekali.
Diriku dan Putu pun berjalan dengan AGAK cepadh menuju tempat penjualan karcis. Menurut akal sehat gue yang gak sehat, “UI deket Depok, ato malah uda di Depok”. Dan apa yang saya lakukan? Membeli tiket kereta Pakuan seharga sepuluh ribu rupiah.
Katanya sih, berangkatnya jam delapan kurang lima belas. Tapi karena orang Indonesia sudah muak menepati waktu, keretanya datang jam delapan lewat lima. LO dari UI sudah menelpon dan bilang, “Buruan, nyied”.
Akhirnja, gue naik kereta itu.
Beberapa saat kemudian, gue melihat tulisan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Tapi kok, keretanya gak berhenti? Ternyata, keretanya emang berhenti di Depok, dan Depok memang dekat UI, tapi DEPOK BUKAN UI.
Ya wes, kita turun di Depok. Jam berapa tuh? setengah sembilan. Ya Yesus, hambamu ini telah berdosa. Udah telat banget kannnnn T.T.
Gimana dong? Gimana dong? Ya wes, karena udah telat kita memutuskan naik Ojek.
Setelah tawar menawar dengan abang tukang odjiyek, didapatlah harga LIMA BELAS RIBU RUPIAH.
Putu pun berkata, “mendingan naek travel”.
Demi Yesus dan Nabi Muhammad, SHE IS EFIN RIGHT. Setelah dihitung2, biaya yang gue keluarkan untuk mendapatkan the luxury of naik kereta ini adalah esbebe:
- Naik Taksi : 20,000
- Tiket Kereta Jakarta-Bandung : 25,000
- Tiket Kereta Gambir-Depok : 10,000
- Naik Odjiyek : 15,000
TOTAL : 70,000
Kalo naik travel : 45,000 dan TINGGAL JALAN dari kosan gue, udah deket ama UI.
Kesimpulan : gue cocok masuk Fakultas Ekonomi
April 21, 2009
One Hundred
Berikutnja, gue mau membahas tentang seratussssssss, yak
Kurang lama tau ketemunya,
kurang berani tau lo pas ketemu,
kurang cepet tau lo nyadarnya,
kurang seru tau pas ngobrol,
kurang berani tau lo negur,
kurang mendukung lagi tiga orang itu,
kurang jauh juga orang yang satu itu,
kurang bagus juga yang ada di luar,
kurang dikit juga apa yang ada di dalam,
semuanya kurang, apa yang gak kurang? SERATUS
Full of wisdom , reflected on the number,
full of baggage, reflected on the entourage,
full of compatibility, reflected while on the chamber,
full of anecdotes, reflected on those grins,
full of surprises, reflected on the gift,
full of things that can’t be let go.
One hundred memang oke
About the author
Ya ya, jadi ceritanya gue dulu punya blog dengan username goblog di semacam blog yang menyediakan sarana perblogan. Tetapi, karena kemiripan antara pembuat blog itu dan usernamenya blognya (baca : goblog), dia melupakan username dan password dari blog itu.
Sekarang, penulis blog ini merasakan an urgent need untuk ngebuat blog. Kenapa? Banyak pikiran-pikiran aneh yang harus segera didistribusikan penulis ke sesuatu. Penulis merasa sesuatu itu adalah blog.
Agar para pembaca bisa (sedikit) mengerti mengapa saya menulis apa yang saya tulis, penulis memutuskan untuk memberikan sedikit deskripsi tentang dirinya.
Penulis blog festivebrunch adalah seseorang yang lahir pada tanggal 27 Juni 1990. Dia adalah seorang mahasiswa ITB jurusan FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) . Tahun ajaran depan, dia akan melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Akuntansi.
Akhir-akhir ini, dia berpikir untuk melepas Akuntansi UInya, dan nyoba UMB lagi, jurusan kedokteran. Aduhhhhh, mencla-mencle banget siii. EMANG. Kalau ada satu frase yang paling bisa menjelaskan penulis dengan baik, frase itu adalah Mencla-Mencle.
Kenapa penulis mau pindah ke kedokteran merupakan satu alasan terkuat kenapa penulis membuat blog ini. Supaya ada pembaca waras dengan kemampuan membujuk tinggi yang bisa menghentikannya from doing so. Aghhhh.
Saat ini, hidup penulis sedang dibuat indah oleh kehadiran hal-hal berikut :
- PSM ITB
- Desperate Housewives
- Beyonce
- Seratus
Pada post-post selanjutnya, penulis akan memberikan penjelasan yang elaborativ tentang keempat hal di atas. Til I post again yaa

I’m scared of being the only shadows I see along the wall